PERSATUAN DAN KESATUAN

Published January 14, 2012 by andayanif3

PERSATUAN DAN KESATUAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah, merupakan suatu kondisi dan cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama.  Suatu masyarakat yang didorong oleh keharusan pemenuhan kebutuhannya perlu bekerja sama atau bersatu dalam bekerja karena pada dasarnya saling membutuhkannya.  Masyarakat juga perlu bersatu agar dapat menghimpun kekuatan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.  Disamping itu, pencapaian suatu tujuan masyarakat dapat efektif bila dilakukan dalam satu tatanan atau suatu tata hubungan dalam masyarakat yang berada dalam satu kesatuan.
Persatuan dan kesatuan tidak saja berlaku secara nasional, tetapi juga diperlukan dalam lingkup regional dan global, wujudnya seperti Uni Eropa, ASEAN, APEC atau WTO.Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia diwujudkan dalam semboyan pada  lambang Negara Republik Indonesia yaitu ”BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang keberadaannya berdasarkan pada PP No. 66 Tahun 1951, mengandung arti beraneka tetapi satu (Ensiklopedia Umum, 1977).  Semboyan tersebut menurut Supomo, meng- gambarkan gagasan dasar yaitu menghubungkan daerah-daerah dan suku-suku bangsa di seluruh Nusantara menjadi Kesatuan Raya (ST Munadjat D, 1928).
Keberagaman atau kehidupan dalam lingkungan majemuk bersifat alami dan merupakan sumber kekayaan budaya bangsa.  Setiap perwujudan mengandung ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari perwujudan yang lain, tidak mungkin satu perwujudan mengandung semua ciri yang ada, karena bila hal itu terjadi maka dia akan menjadi maha sempurna, padahal hanya satu maha sempurna yaitu TUHAN.  Tidak mungkin  pula bila semua perwujudan sama, karena makanisme tesis-antitesis-sintesis tidak akan terjadi, dalam arti tidak akan ada perkembangan atau kemajuan. Dalam kehidupan masyarakat yang serba majemuk, berbangsa dan bernegara, berbagai perbedaan yang ada seperti dalam suku, agama, ras atau antar golongan, merupakan realita yang harus didayagunakan untuk memajukan negara dan bangsa Indonesia, menuju cita-cita Nasional kita adalah masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1.    Apakah yang dimaksud dengan Persatuan dan Kesatuan Bangsa?
2.    Apakah makna dari Persatuan dan Kesatuan Bangsa?
3.    Apa saja yang menjadi landasan hukum Persatuan dan Kesatuan Bangsa?
4.    Bagaimana cara untuk mengamalkan nilai – nilai Persatuan dan Kesatuan serta prinsip – prinsip apa saja yang harus kita hayati dan kita amalkan dalam Persatuan dan Kesatuan Bangsa?
5.    Sikap yang bagaimana yang harus dikembangkan dalam memelihara semangat / jiwa Persatuan dan Kesatuan?

BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian Persatuan dan Kesatuan Bangsa
a.    Persatuan
Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh atau tidak terpecah-belah. Persatuan mengandung arti “bersatunya macam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi.”
b.    Kesatuan
Kesatuan adalah ke – Esaan, sifat tunggal atau keseutuhan (WJS. Poerwadarminta, 1987).
Persatuan bangsa berarti gabungan suku-suku bangsa yang sudah bersatu.  Dalam hal ini, masing-masing suku bangsa merupakan kelompok masyarakat yang memiliki ciri-ciri tertentu yang bersatu.  Penggabungan dalam persatuan bangsa, masing-masing bangsa tetap memiliki ciri-ciri dan adat istiadat semula.
Dalam persatuan bangsa, satu suku bangsa menjadi lebih besar dari sekedar satu suku bangsa yang bersangkutan karena dapat mengatasnamakan bangsa secara keseluruhan. Misalnya suku Bugis atau suku Batak dapat menyebutkan dirinya bangsa Indonesia, yang memiliki ciri jauh lebih luas dan komplek dari pada suku Bugis atau Batak itu sendiri.
Kesatuan bangsa Indonesia berarti satu bangsa Indonesia dalam satu jiwa bangsa seperti yang diputuskan dalam kongres Pemuda pada tahun 1928 dalam keadaan utuh dan tidak boleh kurang, baik sebagai subyek maupun obyek dalam penyelenggaraan kehidupan nasional.  Sedangkan kesatuan wilayah Indonesia berarti satu wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari daratan, perairan dan dirgantara diatasnya seperti yang dinyatakan dalam deklarasi Juanda 1957, dalam keadaan utuh dan tidak boleh kurang atau retak.

2.    Makna Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kita rasakan ini, terjadi dalam proses yang dinamis dan berlangsung lama, karena persatuan dan kesatuan bangsa teerbentuk dari proses yang tumbuh dari unsur-unsur social budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang ditempa dalam jangkauan waktu yang lama sekali.
Unsur-unsur sosial budaya itu antara lain seperti sifat kekeluargaan dan jiwa gotong-royong. Kedua unsur itu merupakan sifat-sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun oleh asas kemanusiaan dan kebudayaan.
Karena masuknya kebudayaan dari luar, maka terjadi proses akulturasi (percampuran kebudayaan). Kebudayaan dari luar itu adalah kebudayaan Hindu, Islam, Kristen dan unsur-unsur kebudayaan lain yang beraneka ragam. Semua unsur-unsur kebudayaan dari luar yang masuk diseleksi oleh bangsa Indonesia. Kemudian sifat-sifat lain terlihat dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama yang senantiasa dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Hal itulah yang mendorong terwujudnya persatuan bangsa Indonesia.
Jadi makna persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan sifat kekeluargaan, jiwa gotong-royong, musyawarah dan lain sebagainya.

3.    Landasan Hukum Persatuan dan Kesatuan Bangsa
a.    Landasan Ideal, adalah Pancasila yaitu sila 3 “Persatuan Indonesia.”
b.    Landasan Konstitusional, adalah UUD 1945 yang terdiri dari:
1)    Pembukaan alinea IV: … Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada … persatuan Indonesia.
2)    Dalam pasal-pasal UUD 1945:
•    Pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik.”
•    Pasal 30 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa:
a)    Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara.
b)    Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan Undang-undang.
4.    Pengamalan Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan
a.    Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan Wilayah Indonesia
Pepatah mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Oleh karena itu yang perlu kita tegakkan dan lakukan adalah:
1)    Meningkatkan semangat kekeluargaan, gotong royong, dan musyawarah.
2)    Meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan.
3)    Pembangunan yang merata serta berkeadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
4)    Memberikan otonomi daerah.
5)    Memperkuat sendi-sendi hokum nasional serta adanya kepastian hokum.
6)    Perlindungan, jaminan serta menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan;
7)    Memperkuat system pertahanan dan keamanan sehingga masyarakat merasa terlindungi.
b.    Meningkatkan semangat Bhineka Tunggal Ika
c.    Mengembangkan Semangat Kekeluargaan
Yang perlu kita lakukan setiap hari usahakan atau “budayakan saling bertegur sapa.”
d.    Menghindari Penonjolan SARA dan lain-lain
Karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama serta adat istiadat kebiasaan yang berbeda-beda, maka kita tidak boleh melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan perpecahan. Maka dari itu yang harus kita hindari antara lain:
1)    egoisme
2)    ekstrimisme
3)    sukuisme
4)    profinsialisme
5)    acuh tak acuh tidak peduli terhadap lingkungan
6)    fanatisme yang berlebih-lebihan
Tahap-tahap pembinaan persatuan bangsa Indonesia yang paling menonjol ialah sebagai berikut:
a.    Perasaan senasib sepenanggungan
b.    Kebangkitan nasional
c.    Sumpah pemuda
d.    Proklamasi kemerdekaan
Tetapi apabila hal-hal yang berhubungan dengan arti dan makna persatuan Indonesia dikaji lebih jauh, terdapat beberapa prinsip yang juga harus kita hayati serta kita pahami lalu kita amalkan.
Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:
1)    Prinsip Bhineka Tunggal Ika
Prinsip ini mengharuskan kita mengakui bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan adat kebiasaan yang majemuk. Hal ini mewajibkan kita bersatu sebagai bangsa Indonesia.
2)    Prinsip Nasionalisme Indonesia
Kita mencintai bangsa kita, tidak berarti bahwa kita mengagung-agungkan bangsa kita sendiri. Nasionalisme Indonesia tidak berarti bahwa kita merasa lebih unggul daripada banga lain. Kita tidak ingin memaksakan kehendak kita kepada bangsa lain, sebab pandangan semacam ini hanya mencelakakan kita. Selain tidak realistis,sikap seperti itu juga bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3)    Prinsip Kebebasan yang Bertanggungjawab
Manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memiliki kebebasan dan tanggung jawab tertentu terhadap dirinya, terhadap sesamanya dan dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
4)    Prinsip Wawasan Nusantara
Dengan wawasan itu, kedudukan manusia Indonesia ditempatkan dalam kerangka kesatuan politik, social, budaya, ekonomi, serta pertahanan keamanan. Dengan wawasan itu manusia Indonesia merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa, dan setanah air, serta mempunyai satu tekad dalam mencapai cita-cita pembangunan nasional.
5)    Prinsip Persatuan Pembangunan untuk Mewujudkan Cita-Cita Reformasi
Dengan semangat persatuan Indonesia kita harus dapat mengisi kemerdekaan serta melanjutkan pembangunan menuju masyarakat yang adil dan makmur.
5.    Sikap yang harus dikembangkan dalam memelihara semangat / jiwa Persatuan dan Kesatuan.
Berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini masih tetap merintangi perjalanan bangsa Indonesia dalam mewujudkan integrasi nasionalnya, apalagi dalam era globalisasi dan keterbukaan, dimana batas-batas negara semakin kabur serta adanya semangat reformasi yang berlebihan dapat menimbulkan kerawanan dalam upaya pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Kalau tidak hati-hati dalam menanganinya tidak mustahil terjadi disintegrasi/perpecahan bangsa. Oleh sebab itu menjaga keutuhan dan kelestarian bangsa melalui semangat/jiwa persatuan dan kesatuan merupakan kebutuhan mutlak serta sekaligus merupakan tantangan yang tidak ringan.
Dalam memelihara semangat/jiwa persatuan dan kesatuan, kiranya perlu dikembangkan dua sikap yaitu :
a.    Mengembangkan sikap dilihat dari aspek psikologis yaitu sikap kekeluargaan yang memungkinkan terjadinya proses dialogis segenap unsur bangsa sehingga dapat menerima pandangan orang lain walaupun berbeda pendapat, cara-cara ini dikembangkan dengan azas musyawarah mufakat.
b.     Mengembangkan sikap dilihat dari aspek ideologi, menyangkut upaya yang menjaga agar dinamika yang dikembangkan tidak keluar dari Pancasila yang telah disepakati sebagai dasar negara, dan ideologi nasional.
Dengan mengembangkan dua sikap tersebut, diharapkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa tetap menggelora didada setiap insan Indonesia sehingga mampu menciptakan kondisi yang kondusip terhadap perwujudan persatuan dan kesatuan perlu dikembangkan sikap :
1. Memantapkan Ideologi Nasional
Belajar dari pengalaman sejarah, salah satu sebab perpecahan bangsa adalah karena berbagai golongan dan aliran yang tumbuh dimasyarakat mempunyai ideologi sendiri-sendiri yang masing-masing ingin menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sehingga menyebabkan sering terjadinya benturan-benturan sosial dan politik yang memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa.
Agar keutuhan bangsa ini tetap kokoh dalam menghadapi segala tantangan, maka Pancasila dijadikan sebagai Dasar Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai perekat semua unsur masyarakat yang majemuk. Setiap perkumpulan dan organisasi baik organisasi kemasyarakatan maupun kekuatan sosial politik wajib menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian maka semangat kebersamaan, kekeluargaan dan keterbukaan yang bertanggung jawab dan bersumber pada nilai-nilai Pancasila akan tetap kokoh dihati segenap bangsa Indonesia sebagaimana dikehendaki para pendiri bangsa ini.
2. Meningkatkan Pembauran Kebangsaan.
Salah satu aspek dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa adalah melaksanakan pembauran kebangsaan. Pembauran merupakan bagian proses pembudayaan bangsa yang harus dipacu kearah yang positif dan harus dijiwai sikap mawas diri, tahu diri, tenggang rasa, solidaritas sosial ekonomi serta mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersamaan dan kesetiakawanan dalam upaya memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.
Upaya mewujudkan pembauran kebangsaan adalah merupakan tugas nasional yang harus dilaksanakan pemerintah bersama seluruh warga masyarakat.
Proses pembauran harus menyentuh semua segi kehidupan berbangsa dan bernegara baik perorangan dan keluarga maupun dalam ikatan kelompok organisasi dan lembaga kemasyarkatan disemua bidang kehidupan. Upaya pembauran ini merupakan tugas yang tidak akan pernah selesai dalam kehidupan bangsa, mengingat adanya perbedaan asal-usul, status kewarganegaran Republik Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan Bahwa yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disyahkan dengan Undang-Undang sebagai warga negara.
Proses adaptasi atau penyatu paduan segenap unsur masyarakat bangsa Indonesia menjadi satu kebulatan sosiologis yang utuh dalam semua segi kehidupan inilah yang harus diupayakan melalui kegiatan pembauran.
Suatu prinsip pembauran kebangsaan hanya akan dapat diwujudkan melalui wadah-wadah pembauran. Oleh karena itu pembinaannya harus dilakukan melalui jalur-jalur yang memungkinkan individu atau kelompok saling berkomunikasi dalam rangka mewujudkan kebersamaan.
3. Memantapkan Kerukunan Umat Beragama.
Aspek lain yang sangat penting dalam menunjang tetap kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa di bumi Indonesia adalah memantapkan kerukunan hidup umat beragama.
Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap agama selalu mengajarkan perdamaian, keharmonisan dan kerukunan hidup bagi umat manusia, akan tetapi tidak jarang terjadi bahwa pemahaman ajaran agama yang sempit dapat pula memicu permusuhan yang menjurus kepada konflik antar pemeluk agama yang pada gilirannya dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Konflik yang dibarengi dengan masalah keagamaan dapat saja terjadi antara intern umat dalam satu agama ataupun antara umat salah satu agama dengan agama lainnya.
Salah satu aspek yang banyak menjadi penyebab timbulnya perselisihan adalah masalah pendirian rumah ibadat dan penyiaran ajaran agama. Seiring dengan hal tersebut, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9-8 Tahun 2006 yang mengatur Tugas Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat.
4. Memantapkan Kehidupan Politik dan Demokrasi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan politik yang tidak stabil dapat menimbulkan gangguan terhadap upaya pembinaan kesatuan bangsa. Pemerintah telah berupaya mengakomodasikan kepentingan semua kelompok dan golongan yang dapat lebih menjamin hak-hak demokrasi.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1. Persatuan dan kesatuan penting bagi bangsa Indonesia mengingat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk.
2. Perilaku yang merugikan persatuan dan kesatuan, yaitu kemiskinan, kesenjangan sosial, keterbelakangan, ketergantungan, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pencemaran lingkungan hidup, dekadensi moral, apatisme dan ketidakpedulian sosial.
3. Kesetiaan terhadap bangsa dan negara adalah keteguhan hati dan ketaatan terhadap tujuan dan cita-cita bangsa dan negaranya.
4. Salah satu wujud kesetiaan bangsa Indonesia saat ini adalah kesetiaan mempertahankan dan mengembangkan kebersamaan dengan menegakkan nilai-nilai kesetiaan. Kesetiaan itu mencakup kesetiaan terhadap keutuhan bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, dan kesetiaan terhadap Tata Hukum Indonesia.
5. Kesetidakawanan sosial adalah rasa solidaritas yang melandasi hubungan antar sesama warga masyarakat. Inti solidaritas adalah kesediaan untuk memahami dan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: