ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA REMAJA

Published January 14, 2012 by andayanif3

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

REMAJA

I.    Pendahuluan

Sudahkah anda berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Pernyataan tersebut sering kita temui di berbagai kesempatan. Baik pada buku pelajaran maupun iklan-iklan di televisi. Memang slogan tersebut sangat penting agar masyarakat Indonesia mau memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Alasan lain dikarenakan di Indonesia sekarang sudah menjamur bahasa ABG. Bahasa ABG sering disebut Bahasa Gaul. Tak tau pasti asal muasal bahasa gaul itu. Bahasa gaul tentu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa gaul tidak mengikuti kaidah bahasa baku. Sehingga sangat fleksibel dan mudah dipakai.Jika slogan diatas diplesetkan menjadi “sudahkah anda berbahasa gaul?” Tentu remaja berada pada urutan pertama yang memakai bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi slogan tersebut kurang pantas karena dapat melecehkan bahasa Indonesia baku yang menjadi bahasa pemersatu di Indonesia. Slogan yang pantas bagi bahasa gaul adalah “gunakan bahasa gaul seperlunya saja”. Alasannya karena memang bahasa gaul bukan bahasa nasional di Indonesia.

II.    Pembahasan
Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai sehingga tidak terlalu baku. Ketidak bakuan ini tercermin dalam kosakata struktur kalimat dan intonasinya. Untuk menghindari pembentukan kata dengan afiksasi, bahasa ABG menggunakan proses nasalisasi yang diiringi dengan penambahasan akhiran ‘in’. Misalnya ‘memperpanjang’ menjadi ‘manjangin’. Memang tak bisa dipungkiri jika bahasa gaul sangat populer di Indonesia. Tak hanya digunakan untuk bahasa sehari-hari, bahasa gaul juga dipakai dalam penulisan majalah dan novel remaja. Dengan bahasa gaul diharapkan dapat memicu remaja untuk membaca dan menikmati wacana tersebut.Bahasa gaul yang timbul di masyarakat memang sangat beragam. Ada beberapa kelompok masyarakat yang menciptakan bahasa gaul sendiri. Misalnya pada sekelompok waria, mereka menambahkan ‘ong’ pada setiap katanya. ‘Laki’ mereka sebut dengan ‘lekong’. Selain itu di Jakarta, orang-orang biasa memakai bahasa ‘loe’, ‘gue’ yang menggantikan aku dan kamu. Ciri khususnya adalah tidak mengacu pada kaidah bahasa Indonesia. Setiap kata ditambah ‘in’. misalnya kata ‘bawa’ menjadi ‘bawain’, ‘tanya’ menjadi ‘nanyain’.Selain itu, bahasa gaul ini sering di sebut dengan bahasa santai dialek Jakarta. Dikarenakan bahasa gaul tersebut merupakan bahasa seharu-hari masyarakat Jakarta. Namun dengan berjalannya waktu bahasa gaul ini banyak dijumpai di kalangan remaja pedesaan dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Hal itu diakibatkan karena seringnya siaran televise yang menggunakan bahasa gaul
Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti ‘permainan’ menjadi ‘mainan’, ‘pekerjaan’ menjadi ‘kerjaan’. Meskipun kata-kata tersebut mengalami perubahan proses morfologi, namun secara semantik tak berubah maknanya. Misalnya, kata ‘mainan’. Kata tersebut meskipun telah mengalami perubahan morfologi tetapi secara semantik artinya tetap yaitu melakukan sesuatu (permainan).
Bahasa gaul dapat timbul dari iklan di televisi, lirik lagu, maupun ragam sms. Bahasa iklan dan lirik lagu biasanya sangat mempunyai peranan penting bagi remaja. Misalnya kata ‘cepek deh’ sangat sering digunakan remaja dalam kesehariannya. Bahkan anak-anak kecil pun ikut menirukan kata-kata tersebut. Sedangkan pada lirik lagu, misalnya kata ‘ mara-mara mara-mara itu gak perlu, udahan maranya cepetan dong cepetan’.
Pada novel-novel remaja juga ditemukan bahasa gaul tersebut. Misalnya dalam judul novelnya saja menggunakan bahasa gaul, ‘cintapucino’.
Untuk menunjang keberadaan bahasa gaul, saat ini juga terbit kamus bahasa gaul. Sehingga kita dapat dengan mudah memakai bahasa itu.  Tetapi bedanya aturan bahasa gaul cenderung tidak konsisten sehingga untuk mempelajarinya kita harus banyak menghafal.

1. Dampak Bahasa Gaul
Akibat timbulnya bahasa gaul tersebut menimbulkan suatu pertanyaan baru. Apakah bahasa gaul tersebut tidak mengganggu eksistensi bahasa Indonesia yang baik dan benar? Bagaimana caranya membatasi bahasa gaul dan menggalakkan pemakaian bahasa Indonesia? Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut, sejauh pemakaian bahasa gaul secara wajar tidak akan mengganggu eksistensi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia yang  baik dan benar akan tetap digunakan masyarakat Indonesia. Alasannya karena bahasa Indonesia memang bahasa pemersatu bangsa. Meskipun saat ini bahasa gaul lebih disukai.Kembali pada bahasan sebelumnya, bahasa gaul dikhawatirkan dapat melunturkan pemakaian bahasa Indonesia. Remaja saat ini sangat suka menggunakan bahasa gaul bahkan ketika berbicara dengan guru. Sebaiknya guru yang mendengar perkataan itu dapat mengingatkan dan membetulkan kata tersebut. kata yang sering digunakan remaja dan tidak disadari seorang guru adalah ‘ndak’ .Selain itu untuk anak-anak, bahasa gaul juga mengakibatkan kesalahan berbahasa karena mereka sudah terbiasa berbahasa gaul.
Dalam hal ini orangtua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan bahasa anak. Seperti bahasa ibu akan dikenal anak sampai kapanpun karena bahasa itu dipelajari sejak kecil.Bahasa gaul bukanlah sesuatu momok yang menakutkan. Malah bahasa gaul dapat menjadi identitas bangsa Indonesia selain bahasa Indonesia baku. Namun alangkah baiknya sebagai bangsa Indonesia mencintai bahasa Indonesia baku. Bahasa gaul dapat dicegah dengan seringnya memakai bahasa Indonesia baku di setiap kesempatan. Seorang guru merupakan sosok teladan bagi muridnya. Sehingga alangkah baiknya seorang guru ikut mendidik muridnya agar menggunakan bahasa Indonesia baku

2. Penggunaan Bahasa.
Menurunnya pemakaian bahasa yang baik dan benar juga disebabkan karena menjamurnya bahasa gaul sekarang ini. Orangtua juga sering dan suka menggunakan bahasa gaul untuk berkomunikasi dengan anaknya. Pada setiap kesempatan dan khususnya acara resmi sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia baku. Sedangkan bahasa gaul sendiri biarlah tumbuh subur di kalangan tertentu. Remaja yang menggunakan bahasa gaul itu lain waktu juga akan sadar dan kembali menggunakan bahasa Indonesia baku.Menurut pandangan teori semantik, beberapa bahasa gaul mempunyai makna konotatif. Makna konotasi sendiri adalah makna kiasan atau makna yang tidak sesungguhnya. Biasanya kata yang bermakna konotasi merupakan penggantian kata yang sebenarnya (denotasi). Contoh bahasa gaul yang bermakna konotasi,  ‘Akika mawar belalang spartakus nih coz spartakus sutra Rusia’. Dalam kalimat tersebut terdapat kata mawar, belalang, sutra, dan Rusia. Keempat kata-kata tersebut memang mempunyai arti yang sebenarnya. Namun pada kasus di atas, kata-kata tersebut memiliki makna konotasi. ‘mawar’  yang makna denotasinya adalah bunga, memiliki makna konotasi ‘mau/ingin’. ‘belalang’ yang sebenarnya adalah seekor binatang, dalam bahasa gaul tersebut mempunyai makna ‘beli’. ‘sutra’ mempunyai makna ‘sudah’ dan ‘Rusia’ mempunyai makna ‘rusak’.Nah, dapat kita lihat bahwa sebenarnya kata-kata yang mempunyai makna denotasi dapat diplesetkan maknanya dalam pemakaian bahasa gaul. Selain itu, makna konotasi dapat dibedakan menjadi dua macam. Konotasi positif dan konotasi negatif. Misalnya kata ‘wanita’ dan ‘perempuan’. ‘wanita’ mempunyai makna konotasi positif (tinggi), ‘perempuan’ mempunyai konotasi negatif (rendah). Remaja sekarang sering menggunakan makna konotasi negatif dalam bahasa sehari-hari. Misalnya ‘laki loe ganteng banget, coy!’ pada kalimat tersebut makna konotasi negatif adalah kata ‘laki’.Selain mempunyai makna konotasi, bahasa gaul juga mempunyai sifat makna berubah. Maksudnya penghalusan atau pengasaran. Seperti halnya penjelasan di atas, ‘laki’ mempunyai makna konotasi negative dan bersifat pengasaran. ‘bini’ juga mempunyai sifat pengasaran. Namun ada juga yang bersifat penghalusan. ‘mati’ dalam bahasa gaul diganti menjadi ‘koit’. Sedangkan ‘cantik’ diubah menjadi‘kece’.
Dalam perkembangan bahasa saat ini banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk dari hasil pemendekan kata. Misalnya ‘ABRI’ berasal dari kepanjangan ‘ Angkatan Bersenjata R epublik Indonesia’. Dalam bahasa gaul, kata-kata yang terbentuk juga berasal dari pemendekatan kata tau kontraksi dari dua kata yang berbeda. Misalnya, ‘terima kasih’ berubah menjadi ‘makasih’, ‘bagaimana’ berubah menjadi ‘gimana’, dan ‘kurang pergaulan’ berubah menjadi ‘kuper’.Bahasa ABG yang cenderung tidak baku masih menimbulkan kontroversi ketika hendak diperkenalkan di dalam kelas. Banyak kalangan guru yang berpendapat bahwa bahasa gaul tidak beraturan dan tidak menunjukkan jati diri bangsa yang sebenarnya. Padahal, proses pembentukan makna dalam bahasa gaul mempunyai kesamaan pada proses pembentukan makna dalam bahasa Indonesia baku. Walaupun bahasa ini tidak diperkenalkan di dalam kelas secara formal, para ABG di Indonesia dengan mudah memahaminya karena bahasa ini merupakan bahasa sehari-hari mereka. Hampir sebagian besar orang Indonesia dapat dengan mudah mempelajari bahasa ini lewat acara televisi yang lebih banyak bernuansa ABG.
Karena bahasa gaul tidak dimasukkan ke dalam kurikulum, guru bisa memperkenalkan bahasa ini secara proporsional sesuai dengan waktu dan minat para siswa. Yang perlu disampaikan kepada siswa adalah bahasa gaul sangat mudah dipelajari karena kalimatnya jauh lebih sederhana. Tetapi tak lupa tetap mengajarkan bahasa Indonesia baku dalam kelas. Setiap bahasa memiliki sejumlah aturan yang membatasi pemakainya. Namun bahasa gaul tentu tidak patut jika digunakan dalam situasi resmi karena memang sifatnya sangat santai.Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa bahasa gaul hadir dari kelompok masyarakat sendiri. Bahasa gaul merupakan  keanekaragaman budaya Indonesia di bidang bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul yang secukupnya saja dapat mencegah lunturnya pemakaian bahasa Indonesia. Meskipun proses pembentukannya sama dengan proses pembentukan bahasa Indonesia. Bahasa gaul sangat berperan bagi pembentukan bahasa remaja. Dikarenakan bahasa gaul yang sifatnya santai dan fleksibel. Tetapi alangkah baiknya jika menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi sehari-hari. Alasannya karena bahasa Indonesia adalah bahasa nasional.

3. Kesalahan-kesalahan Berbahasa
Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi: (1) ketidakefektifan kalimat (2) kesalahan pemilihan kata (3) kesalahan penggunaan afiks (4) tidak lengkapnya fungsi-fungsi kalimat (5) kesalahan pemakaian preposisi (6) pembalikan urutan kata (7)  kesalahan penggunaan konstruksi pasif (8) kesalahan pemakaian konjungsi (9) ketidaktepatan pemakaian  yang  (10) kesalahan dalam pembentukan jamak.Selengkapnya…

III.    Penutup
Dari apa yang diuraikan di atas dapat di simpulkan bahwa remaja lebih suka menggunakan bahasa ABG atau bahasa gaul. Karena, cenderung singkat, lincah dan kreatif. Sehingga sanggat mudah digunakan. Bahasa gaul dapat timbul dari iklan di televisi, lirik lagu, maupun ragam SMS.
Kesalahan-kesalahan berbahasa meliputi : (1) ketidakefektifan kalimat (2) kesalahan pemilihan kata (3) kesalahan penggunaan afiks (4) tidak lengkapnya fungsi-fungsi kalimat (5) kesalahan pemakaian preposisi (6) pembalikan urutan kata (7)  kesalahan penggunaan konstruksi pasif (8) kesalahan pemakaian konjungsi (9) ketidaktepatan pemakaian  yang  (10) kesalahan dalam pembentukan jamak.

Daftar Pustaka
Neny Ismartini.2009. “ Bahasa Gaul dan Remaja”(online),   (http://www.pro-ibid.com/content/view/117/1/htm. diakses tanggal 26 Juni 2009 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: